Banyak orang tahu ingin bilang “tidak,” tapi kenapa kata itu susah sekali keluar? Mulut terasa terkunci, hati penuh keraguan, dan akhirnya kita malah mengiyakan. Meski lelah atau tidak setuju, kita tetap menjalankannya demi menghindari rasa nggak enak. Kenapa ya, nolak itu terasa sesulit itu?
Salah satu alasannya adalah takut mengecewakan orang lain. Bayangkan ekspresi mereka setelah kita menolak, apalagi jika orang itu dekat atau sudah lama berteman. Kadang kita lebih memilih mengorbankan kenyamanan sendiri daripada membuat orang lain tidak senang.
Alasan lain adalah ingin dianggap baik. Banyak dari kita tumbuh dengan pandangan bahwa orang baik selalu membantu tanpa pernah berkata “tidak.” Jadi, saat mencoba menolak, muncul rasa bersalah seolah kita jadi egois atau tidak peduli.
Tak kalah penting, ada ketakutan kehilangan peluang. Misalnya diundang acara atau ditawari proyek, walau sebenarnya belum butuh atau sudah lelah, kita khawatir kalau menolak berarti melewatkan kesempatan berharga.
Tekanan sosial juga bikin rumit. Kalimat seperti, "Kita sudah berteman lama, tolong bantu aku ya," atau "Sebentar aja kok," sering kali membuat kita merasa harus memberi alasan panjang lebar. Padahal, sebenarnya menolak tidak perlu penjelasan rumit.
“Menolak bukan berarti menutup pintu, tapi memastikan pintu yang terbuka adalah yang benar-benar kamu inginkan.”
Langkah pertama untuk berani berkata “tidak” adalah menyadari bahwa menolak bukan berarti kamu jahat atau egois. Ini adalah cara menjaga kesehatan mental dan batasan diri.
Ingat, waktu dan energi kamu terbatas. Kamu tidak harus hadir di setiap acara atau menerima semua permintaan. Gunakan kalimat singkat dan sopan saat menolak, tanpa perlu alasan bertele-tele. Hakmu menolak tidak bergantung pada penjelasan rumit.
“Mengatakan ‘tidak’ itu bentuk menghargai diri sendiri dan menjaga kualitas hubungan.”
Memang awalnya canggung dan tak enak di hati. Tapi lama-kelamaan, kamu akan melihat bahwa batasan yang kamu buat membantu hubungan jadi lebih sehat. Sebab kamu memberi dari hati, bukan karena terpaksa.